Sejarah Puasa Ramadhan dan Keutamaannya

Sejarah puasa Ramadhan tidak bisa dipisahkan dari peristiwa penting hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah. Hijrah tersebut dilakukan dengan tujuan untuk menghindari gangguan kamu musrik Quraisy.

sejarah puasa ramadhan


Sejarah Puasa Ramadhan

Puasa Ramadhan pertama kali diwajibkan pada nabi Muhammad SAW dan Ummatnya pada 10 Sya'ban 2 tahun setelah  hijrahnya Ummat Islam dan ketika itu nabi Muhammad baru mendapatkan perintah untuk mengalihkan arah kiblat yang semula dari Baitul Maqdis di Yerussalem, Palestina Ke Ka'bah di Masjidil Haram, Mekah.

Menurut Imam Al-Qurthubi, seperti yang dikutip dari buku dengan judul Misteri bulan Ramadhan karya Yusuf Burhanudin, yang pertama kali berpuasa di bulan Ramadhan adalah Nabi Nuh As. Nabi Nuh melakukan puasa saat turun dari perahunya setelah melewati badai dan banjir yang menimpa Ummatnya.

Nabi Nuh As melakukan puasa tersebut sebagai tanda dan rasa syukur kepada Allah SWT atas keselamatan dirinya dan juga Ummatnya dari badai dan banjir.

Adapun sebelum turunnya surat Al-Baqarah ayat 183 yang mewajibkan puasa, ummat Islam sudah terbiasa berpuasa pada hari ke 10 bulan Muhaaram atau yang dikenal dengan hari Asyura.

Sementara itu, saat Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah semasa peristiwa hijrah, Nabi Muhammad SAW melihat orang-orang Yahudi biasa berpuasa setiap tanggal 10 Muharram.

Saat itu Nabi Muhammad bertanya kepada salah satu orang Yahudi, apa sebab mereka melakukan puasa. Orang-orang Yahudi tersebut menjawab bahwa mereka berpuasa karena Allah SWT telah menyelamatkan Nabi Musa As dan kaumnya dari kejaran Raja Firaun. Nabi Musa As lalu berpuasa pada hari ke 10 bulan Muharram sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT.

Nabi Muhammad menjelaskan peristiwa tersebut kepada Ummatnya, kemudian Nabi Muhammad SAW memerintahkan Ummatnya agar berpuasa pada tanggal 10 Muharram.

Pada awalnya, Ummat Islam wajib berpuasa sampai datangnya waktu maghrib. Setelah berbuka mereka diperbolehkan untuk makan, dan minum serta bersetubuh hingga datangnya waktu shalat isya setelah itu merekan tidak diperbolehkan untuk makan, minum, dan bersetubuh hingga tiba waktunya berbuka.

Praktik puasa tersebut benar-benar menyulitkan Ummat Islam pada saat itu, sehingga banyak yang melanggar larangan-larangan tersebut. Kemudian Allah SWT menurunkan surat Al-Baqarah ayat 187 yang mengganti praktik puasa tersebut

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ ٱلصِّيَامِ ٱلرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَآئِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ ٱللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنكُمْ ۖ فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Uḥilla lakum lailataṣ-ṣiyāmir-rafaṡu ilā nisā`ikum, hunna libāsul lakum wa antum libāsul lahunn, 'alimallāhu annakum kuntum takhtānụna anfusakum fa tāba 'alaikum wa 'afā 'angkum, fal-āna bāsyirụhunna wabtagụ mā kataballāhu lakum, wa kulụ wasyrabụ ḥattā yatabayyana lakumul-khaiṭul-abyaḍu minal-khaiṭil-aswadi minal-fajr, ṡumma atimmuṣ-ṣiyāma ilal-laīl, wa lā tubāsyirụhunna wa antum 'ākifụna fil-masājid, tilka ḥudụdullāhi fa lā taqrabụhā, każālika yubayyinullāhu āyātihī lin-nāsi la'allahum yattaqụn.

Artinya: Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.

Keutamaan Berpuasa Ramadan

Setelah mengetahu sejarah puasa Ramadhan, berikut beberapa keutaam puasa pada bulan Ramadhan;

1. Memiliki Bau Mulut yang Disukai Allah SWT

Saat berpuasa, bau mulut akan muncul. Akan tetapi bau mulut orang yang berpuasa dipandang Allah SWT sebagai sebuah keutamaan.

2. Doanya Dikabulkan Allah SWT

Bulan Ramadhan merupakan bulan dikabulkannya doa-doa. Doa yang dipanjatkan selama berpuasa akan menjadi doa yang mustajab.

3. Dilindungi Dari Godaan Setan

Di bulan Ramadhan setan akan dikurung dan tidak dapat mengganggu manusia saat berpuasa. Setan juga tidak mudah dalam menggoda orang-orang yang sedang berpuasa untuk melakukan dosa karena dibelenggu oleh Allah SWT.

4. Mendapatkan Surga Ar-Rayyan

Salah satu keutamaan paling sempurna yang akan diperoleh orang yang berpuasa adalah masuk syurga melalu pintu Ar-Rayyan. Pintu Ar-Rayyan secara khusus Allah SWT berikan kepada orang yang menjalankan ibadah puasa. Pintu ini tidak akan dilalui oleh siapapun kecuali orang-orang yang berpuasa.

Demikianlah sejarah puasa ramadhan dan keutamaannya. Terima kasih, semoga bermanfaat.

Referensi:

Dilansir dari berbagai sumber

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url